PALUTA - Warga yang ada
di Kabupaten Padang Lawas Utara mengeluhkan langkanya gas elpiji ukuran
3 kilogram. Kelangkaan terjadi sejak akhir Agustus lalu. Kelangkaan ini
ditengarai disebabkan pengurangan jatah oleh Pertamina.
"Makin susah dapatkan gas elpiji ukuran 3
kilogram sekarang, ditanya alasannya, mereka malah tak tahu apa
alasannya kenapa bisa langka," ujar Imam Ritonga (36), salah seorang
warga Gunung Tua kepada Metro Tabagsel (Grup JPNN), Sabtu (13/9).
Biasanya, kata Imam, untuk memproleh gas
elpiji, dirinya mendatangi agen resmi CV Cahaya Makmur yang berada di
Jalan SM Raja, Gunung Tua, Kecamatan Padang Bolak. Namun belakangan ini,
menurut keterangan dari pihak CV Cahaya Makmur, selaku rekanan dari
Pertamina, jatah gas elpiji untuk daerah Paluta dikurangi untuk waktu
yang tak bisa ditentukan.
Pantauan Metro Tabagsel (Grup JPNN) saat
berkunjung ke CV Cahaya Makmur, terlihat stok gas elpiji ukuran 3
kilogram tiap minggunya berkurang. Di saat pasokan gas dalam keadaan
normal, biasanya pihak CV Cahaya Makmur memperoleh jatah gas sebanyak
1.120 tabung per hari, diluar hari minggu. Namun untuk bulan September
hanya menerima 8.400 tabung.
Pemilik agen resmi CV Cahaya Makmur H
Ali Hasanuddin Harahap (60) mengaku saat ini untuk daerah Paluta, jatah
gas elpiji berkurang dari biasanya, dulunya memproleh 1.120 tabung per
hari, kini hanya 8.400 tabung per bulan.
"Biasanya selalu pesan 1.120 tabung per
hari tapi kini yang datang jumlahnya tak menentu, jatah kami memang lagi
dikurangi," kata H Ali Hasanuddin Harahap di pangkalannya.
Dia juga menuturkan bahwa harga resmi
gas elpiji ke tingkat pengecer Rp14.500 per tabung dan pasca
berkurangnya stok gas ukuran 3 kilogram, pihaknya pun mengurangi jatah
ke tingkat pengecer. Misalnya untuk satu pengecer biasanya dikasih jatah
50 tabung, kini hanya diberi 20 tabung.
Pemerintah berencana merumuskan harga
baru elpiji, khususnya elpiji 12 kilogram. Rencana itu diungkapkan Wakil
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Susilo Siswoutomo pada Agustus
lalu.
Selain Pertamina yang terus merugi,
menurut Susilo, pertimbangan lain untuk merevisi harga elpiji adalah
kebutuhan gas yang mencapai 4,3 juta ton per tahun. Produksi gas
domestik hanya mampu mencukupi sekitar 1,3 juta ton per tahun. Karena
itu, pemerintah harus mengimpor elpiji hingga 3 juta ton per tahun
dengan anggaran impor kira-kira US$ 1.000 untuk 1 ton elpiji. Dengan
demikian, pemerintah harus merogoh kocek hingga US$ 3 miliar atau
sekitar Rp 35,5 triliun untuk impor elpiji.
Berdasarkan kalkulasi tersebut, Susilo
menuturkan, pemerintah perlu menaikkan harga elpiji 12 kilogram,
mengingat elpiji jenis ini seharusnya sudah mengikuti harga pasar.(mag-02) / jpnn
0 komentar :
Posting Komentar